Rabu, 20 April 2016

Antara Sepupu dan Membaca

Suara ejaan sepupu perempuanku benar-benar memecahkan konsentrasi dalam penyusunan lego, padahal sebentar lagi permainan itu rampung. Bibirnya yang pucat karena baru saja pulih dari sakit, begitu lancar mengeja huruf-huruf yang terdapat dalam majalah kegemarannya.  Sedari tadi aku memang tak begitu peduli dengan suara seraknya yang khas, tapi melihat dia dengan semangat yang berapi-api untuk menyelesaikan membaca satu paragraf saja membuatku mencelos. Aku meliriknya berkali-kali hanya untuk memastikan dia tidak tersedak dengan batuknya sendiri, tapi selama proses membaca itupula dia tidak pernah mengeluh sedikitpun.

            Bosan dengan lego yang tak kunjung selesai, aku akhirnya mengendap-ngendap menghampirinya dan duduk disebelahnya tanpa permisi. Dia sama sekali tak terganggu dengan kedatanganku bahkan tak sekalipun menoleh kearahku. Nenek yang memanggilnya sedari tadi juga tak ia respon sedikitpun membuat wanita paruh baya itu juga melangkahkan kakinya ke arah kami. Aku menatap heran ke arah nenekku dan terkesiap saat ia memuji sepupuku dengan sebutan ‘anak pintar’ dan tak lupa mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Untuk pertama kalinya nenek berprilaku manis dihadapan cucu-cucunya. Biasanya nenek selalu mengomel setiap kami berbuat sesuatu. Tapi sekarang keadaannya jauh berbeda dengan biasanya dan itu disebabkan oleh sepupuku yang ‘pintar membaca’, aku benar-benar mendengus sebal.

            Berawal dari kejadian itulah, aku mulai gemar mengoleksi majalah anak-anak. Sebenarnya aku lebih tertarik pada gambar-gambar didalamnya salah satunya dongeng peri nirmala. Tapi karena akhir-akhir ini hampir semua paman dan bibiku menemani si anak ‘pintar membaca’ membuatku juga tak mau kalah dengan kepintarannya. Saat di sekolah aku menjadi lebih bersemangat dalam belajar terlebih karena guru TK ku adalah nenekku sendiri. Saat aku mulai fasih membaca satu paragraf tanpa adanya kesalahan, aku mulai menyombongkan diriku di depan keluargaku. Di mulai kepada mamaku, papaku, nenekku, bahkan hampir semua qnggota keluargaku. Aku juga tak mau kalah dengan si anak ‘pintar membaca’. Tekadku benar-benar kuat saat itu.

            Memasuki SD, aku sudah sangat percaya diri dengan kemampuanku membaca. Aku tidak pernah les membaca kepada bibiku seperti teman-teman sekelasku karena aku bisa membaca kapanpun aku mau. Saat kenaikan kelaspun aku mendapat penghargaan yang cukup baik dengan peringkat kedua. Hal itu membuatku bisa sangat percaya diri jika ditanya oleh semua anggota keluarga, tapi lagi-lagi aku kalah dengan sepupuku, dia mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Setiap naik kelas peringkatku tak pernah berubah, membuatku lagi-lagi mendesah panjang saking kesalnya. Tapi, saat memasuki kelas 5 SD, sepupu pintarku mendapat peringkat lebih rendah dari biasanya, dia berada diperingkat 5 besar. Aku merasa sangat senang sekaligus sedih, pertama karena aku akhirnya mengalahkan dia walaupun sekolah kami berbeda, yang kedua karena aku juga turut perihatin dengan wajah murungnya.

            Setelah kejadian itu aku mulai tidak peduli dengan perhatian keluargaku yang malah semakin memperhatikan sepupuku. Aku mulai senang dengan kegiatan tulis-menulis, jika di sekolah guruku menyuruh kami menulis, aku akan sangat bersemangat dan akhirnya mendapat nilai tertinggi. Aku sudah membiasakan menulis sejak aku sudah benar-benar fasih membaca. Aku selalu merengek meminta buku diary dengan gambar kartun favoritku kepada mama. Pepatah yang mengatakan bahwa membaca dan menulis adalah satu kepaduan yang tak dapat dipisahkan menjadi motivasiku untuk belajar semakin giat.

            Saat social media mulai marak diantara aku dan teman-teman, aku lebih memilih membeli buku novel setiap mendapatkan uang lebih. Sayang sekali, waktu menabungku tidak sebanding dengan waktuku menghabiskan novel-novel itu. Saat itulah, aku mulai mengurangi mengkonsumsi novel. Aku lebih sering berkunjung ke blog-blog atau catatan facebook, karena kebetulan teman-temanku di facebook adalah orang-orang yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai author.

            Pengalaman membacaku tidak pernah jauh dari cerita fiksi karena aku memang sangat menyukai tulisan-tulisan yang memiliki ‘alur’. Tapi bukan berarti aku tidak pernah membaca artikel, karena membaca artikel merupakan kewajibanku sebagai pelajar. Semenjak aku ramah dengan novel, aku sudah tidak pernah lagi membeli buku majalah dengan dongeng nirmala yang penuh gambar. Entah karena alasan apa kegemaranku dengan tulisan bergambar semakin kurang. Buku yang padat dengan tulisan kini menjadi favoritku.


            Kegemaran membaca juga sangat berpengaruh positif pada otakku. Aku menjadi tidak asing dengan buku-buku pelajaran yang setebal tiga jari sekalipun. Otakku seolah memiliki konsep dan teknik saat membaca yang tak pernah bisa kujabarkan. Efek yang sangat signifikan adalah penghargaan dari sekolah, aku mendapatkan peringkat satu paralel di SMA. Dengan semua pengalaman itu aku sangat bersyukur telah menjadi pribadi yang berambisi untuk mengalahkan sepupuku dan sekarang aku menuai hasilnya. Jika kita memiliki tekad kita pasti bisa.


http://mukhofasalfikri.com/index.php/2016/03/08/lomba-menulis-tentang-pengalaman-membacayuk-simak/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar